Hindro Setyawan, S.Pt
Technical Support – Research and Development PT Mensana
Koksidiosis merupakan salah satu penyakit klasik (penyakit yang sudah sangat lama, red) yang sampai saat ini masih menunjukkan keganasannya. Berak darah adalah nama lain dari penyakit ini. Biasanya menyerang ayam pada usia muda. Hal ini terkait dengan belum terbentuknya imun (kekebalan, red) yang optimal dan juga didukung dengan sistem perkandangan yang masih banyak menggunakan kandang lantai atau manajemen litter yang kurang optimal (lembab dan menggumpal). Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada ransum juga ikut memicu peningkatan kasus koksidiosis di lapangan.
Eimeria sp. pada mikroskop electron (www.bbsrc.ac.uk)
Serangan koksidiosis akan menyebabkan kerugian bagi produktivitas ayam. Ayam yang terserang koksidiosis akan menunjukkan gejala penurunan nafsu makan, lemah dan berbulu kusam. Dan ciri khas dari serangan koksidiosis ini ditunjukkan dari perubahan fesesnya. Akan mudah ditemukan feses yang berubah warna menjadi coklat dan akhirnya berlanjut menjadi feses berdarah. Kondisi ini mengindikasikan ususnya sudah mengalami perdarahan. Kerusakan usus ini tentu akan berefek pada penurunan tingkat konsumsi dan kecernaan ransum. Selain itu, pada usus juga terdapat jaringan kekebalan sehingga ayam menjadi lebih rentan terinfeksi penyakit lainnya (immunosupresif). Dan penyakit yang seringkali berkomplikasi adalah necrotic enteritis.
Pahami Siklus Hidup Eimeria sp.
Life cycle of Eimeria sp. (www.websters-online-dictionary.org)
Pemahaman kita terhadap siklus hidup Eimeria sp. akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan koksidiosis secara lebih tepat. Eimeria sp. berkembang melalui dua fase, yaitu aseksual dan seksual. Fase aseksual dimulai dari perkembangan oocyt hingga membentuk skizon dan merozoite. Oocyt atau “telur Eimeria sp.” memiliki dinding yang tebal sehingga relatif tahan terhadap kondisi lingkungan. Oocyt yang mengkontaminasi litter, ransum dan air minum menjadi jalan untuk menginfeksi ayam. Proses sporulasi atau pematangan oocyt menjadi bentuk inaktif membutuhkan waktu sekitar 48 jam.
Oocyt mengandung 4 buah sporocyst dan masing-masing sporocyst mengandung 2 buah sporozoit. Pada saat di gizzard (ampela), dinding oocyt akan hancur gerakan gizzard dan pengaruh chymotrypsin serta garam. Dan saat mencapai usus halus, sporozoit mudah melakukan penetrasi dan masuk ke dalam sel epitel mukasa usus halus untuk memperbanyak diri secara aseksual dan berkembang menjadi skizon I dan merozoit I.
Merozoit I yang keluar dari sel epitel akan melakukan penetrasi dan masuk kembali ke sel epitel. Dan merozoit I ini akan berkembang lagi menjadi skizon II dan merozoit II. Merozoit II keluar dari sel epitel dan melakukan penetrasi kembali untuk berkembang menjadi mikrogamet dan makrogamet. Dan pertemuan antara mikrogamet dan makrogamet menandakan fase perkembangan secara seksual dan akan membentuk zigot yang kemudian berkembang menjadi oocys. Oocys ini akan keluar dari epitel usus dan keluar bersama feses dan mencemari lingkungan. Total untuk 1 siklus Eimeria sp. ini membutuhkan waktu sekitar 4-6 hari.
Controlling Eimeria sp.
Berdasarkan siklus hidup Eimeria sp. diatas maka begitu pentingnya kita melakukan kontrol secara rutin terhadap kondisi feses ayam. Terutama jika sudah terindikasi terjadi perubahan warna feses. Dan pengujian laboratorium untuk mendeteksi adanya oocys dalam feses juga perlu dilakukan, terutama pada kandang yang sering terserang koksidiosis. Segera pisahkan ayam yang terindikasi mengeluarkan feses berwarna coklat atau feses berdarah.
Kondisi litter harus dijaga tetap baik agar perkembangan oocys bisa ditekan, terlebih lagi oocys akan bersporulasi dan menjadi infektif dalam waktu 2 hari pada kondisi optimum (25-33oC). Penambahan batu kapur menjadi langkah klasik yang bisa dilakukan untuk menekan pertumbuhan oocys. Terlebih lagi oocys ini resisten terhadap desinfektan.
Penggunaan kandang slat atau baterai sangat dianjurkan untuk kandang atau peternakan yang sangat riskan terhadap koksidosis. Jika menggunakan kandang postal non slat maka sebaiknya lantainya di beton sehingga memudahkan dalam pembersihan dan desinfeksi. Selain itu, sediakan alas kaki khusus pada setiap kandang sehingga bisa mencegah penyebaran oocys yang mengkontaminasi feses yang mungkin bisa terbawa oleh alas kaki.
Menjaga kesehatan usus tetap optimal menjadi Langkah penting untuk mengendalikan Eimeria sp. Melihat siklus hidup Eimeria sp. yang membutuhkan waktu 4-6 hari di dalam usus, maka kondisi usus yang sehat akan bisa menekan kasus perkembangan Eimeria sp. Bahkan sistem kebebalan tubuh ayam, terutama pada usus akan mampu terstimulasi untuk membentuk kekebalan (imun protektif). Usus yang sehat akan mampu mengendalikan tingkat infeksi yang rendah. Pemberian ransum dengan formulasi yang presisi akan mampu menjaga kesehatan usus, sehingga tidak banyak sisa ransum yang terbuang bersama feses. Dan ransum yang diformulasi secara seimbang sesuai kebutuhan ayam akan mampu menekan kasus dysbacteriosis/bakteri enteritis dan ini secara tidak langsung akan mengurangi resiko serangan koksidiosis. Penggunaan premix (Masamix) yang mampu membantu proses pencernaan dan penyerapan ransum dengan optimal akan mendukung dalam menjaga kesehatan usus.
Pemberian obat yang tepat bisa dilakukan untuk membantu mengobati dan mengatasi serangan koksidiosis. Coxymas dan Quinoxan merupakan contoh obat yang bisa digunakan untuk mengobati kasus koksidiosis. Berikan obat dengan dosis dan lama waktu yang tepat sehingga bisa berkerja dengan optimal mengatasi koksidosis. Pemberian vitamin dengan kandungan vitamin A yang tinggi juga diperlukan untuk membantu menjaga dan memulihkan kondisi epitel mukosa usus.
Pengendalian koksidosis harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dengan melihat siklus hidup Eimeria sp., mulai dari aspek manajemen sampai pemberian obat yang tepat. Selamat beraktivitas, sehat dan sukses selalu.