Artikel

Pelan namun Pasti, Cacing Merugikan

Cacing gilig yang sering menyerang ayam
(Sumber : https://layinghens.hendrix-genetics.com/en/articles/helminthiasis-worms/)

Hindro Setyawan, S.Pt

Technical Support – Research and Development PT Mensana

Cacing adalah salah satu penyakit yang masih sering menyerang ayam, baik ayam petelur maupun ayam pedaging. Tidak begitu mematikan, tetapi kerugian yang ditimbulkan tidaklah sedikit. Terlebih lagi, kondisi saat ini harga pakan naik signifikan.

Serangan cacing bisanya terjadi perlahan, bahkan kadang tidak teridentifikasi. Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, penurunan produksi telur maupun pertumbuhan bisa sangat signifikan. Saat serangan awal biasanya ayam tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Konsumsi ransum juga dirasakan masih sama. Penurunan berat atau besar telur biasanya belum teridentifikasi, kecuali dilakukan pengamatan data recording dengan lebih jeli. Bahkan kadang kala kasus cacing ini tidak terpantau, meskipun produksi telur sudah turun secara signifikan karena konsentrasi peternak maupun tenaga kesehatan lebih besar pada kasus bakterial atau viral.

Cacing yang sering menyerang ayam diantaranya adalah cacing gilig dan cacing pita. Ada sebuah analisis (meta-analysis) dari peneliti Anwar Shifaw et.all (2021) dipublikasikan oleh Poultry Science terkait dengan jenis cacing yang sering menyerang ayam. Dari 2.985 artikel yang dipublikasikan selama tahun 1948 sampai 2019 menunjukkan data jenis cacing yang menyerang ayam adalah Ascaridia galli (35,9%), Heterakis gallinarum (28,5%), Capillaria spp. (5,90%), and Raillietina spp. (19%).

Tabel 1. Cacing yang Sering Menyerang Ayam

Lalu bagaimana data yang ada di Indonesia? Data identifikasi cacing yang sering menyerang ayam petelur di salah satu sentra peternakan ayam petelur, Udanawu Blitar pernah dilakukan oleh peneliti dari Universitas Airlangga (Klalissa dkk, 2023). Hasilnya menunjukkan bahwa dari 96 sampel yang diambil, terdeteksi ada 81,25% sampel positif terserang cacing. Dan setelah diidentifikasi lebih lanjut 66,67%-nya adalah Ascaridia galli, 45,83% Hetarakis gallinarum, 31,25% Raillietina sp. Dan 7,29% Strongyloides avium.

Bagaimana dengan kondisi serangan cacing pada peternakan kita? Alangkah lebih baiknya jika kita membangun database jenis cacing yang sering menyerang atau mengancam pada peternakan kita. Lakukan uji laboratorium untuk mendeteksi cacing yang ada di peternakan kita.

Teknik identifikasi serangan cacing biasanya dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengamatan paska bedah bangkai untuk melihat keberadaan cacing, pengamatan feses dan identifikasi telur cacing (flotasi feses dan pengamatan mikroskop). Lakukan identifikasi cacing secara rutin, terutama saat musim penghujan maupun saat ada peningkatan populasi serangga dan lalat di dalam kandang.

Serangan cacing sering diabaikan oleh peternak. Peternak baru menyadari keberadaan cacing pada saat terjadi penurunan produksi yang signifikan. Padahal keberadaan cacing di saluran pencernaan akan “mencuri” nutrisi dari ransum yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan maupun produksi telur.

• Lakukan identifikasi keberadaan cacing maupun telur

Amati kondisi feses terutama pada saat populasi serangga dan lalat meningkat. Saat jumlah cacing yang menyerang ayam sudah parah, biasanya pada feses ayam akan terlihat adanya cacing maupun bagian tubuh cacing yang mengandung telur cacing (proglottid gravid). Selain pengamatan secara langsung, ambil sampel feses untuk diamati secara mikroskopis di laboratorium.

Proglottid gavid yang ditemukan pada feses

Indentifikasi cepat ini akan sangat bermanfaat untuk memutus siklus dan penanganan cepat. Perlu selalu kita ingat, serangan cacing ini memiliki karakter pelan namun pasti. Identifikasi cepat akan sangat bermanfaat untuk menekan kerugian, baik dari penurunan produksi maupun dari membengkaknya biaya pengobatan. Belum lagi, berat badan ayam yang turun akan semakin memperlambat kembalinya produksi telur. Ransum yang dikonsumsi ayam akan dialokasikan untuk mengembalikan berat badan, baru difokuskan untuk membentuk telur.

Selain pengamatan feses, perlu dikolaborasikan dengan identifikasi produksi. Seringkali saat awal serangan cacing, produksi telur masih bertahan namun yang akan turun adalah berat telur. Pantau data berat telur maupun besar telur. Dan kontrol berat badan ayam juga perlu dilakukan secara rutin, minimal 1x dalam 1 bulan.

• Pemilihan obat cacing yang tepat sesuai dengan jenis cacing yang menyerang

Pemilihan obat cacing yang tepat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penanganan serangan cacing. Terlebih lagi obat yang digunakan untuk membunuh cacing gilik berbeda dengan untuk cacing pita. Oleh karena itu, sangat vital peranan mengidentifikasi jenis cacing yang menyerang.

Penggunaan obat cacing golongan piperazin (Piperamas) sangat efektif untuk membunuh cacing gilig (nematoda), begitu juga dengan Levamisol (Levamas). Namun untuk cacing pita (cestode) bisa menggunakan obat dari golongan niclosamid (Niclomas). Namun jika cacing pita berkolaborasi dengan cacing gilig maka bisa menggunakan obat cacing golongan albendazole (Albenmas) maupun kombinasi Levamisol dan Niclosamid (New Niclomas).

• Tepat aplikasi pemberian obat

Obat harus terkonsumsi dengan dosis yang tepat agar obat efektif dalam membasmi cacing. Pastikan semua ayam mengkonsumsi obat dalam jumlah yang tepat. Pemberian obat cacing bisa diberikan melalui air minum maupun ransum. Jika diperlukan lakukan pemuasaan 1-2 jam sebelum pemberian obat cacing. Tujuannya adalah agar obat terkonsumsi dengan optimal.

Hitung kebutuhan obat cacing berdasarkan perhitungan dosis berat badan. Ini akan lebih tepat. Meskipun kadangkala peternak merasa terlalu banyak obatnya, namun inilah yang tepat. Karena semua obat diperhitungkan berdasarkan dosis berat badan. Jika obat cacing diberikan melalui campur ransum, maka campur obat cacing pada sebagian jumlah ransum yang dikonsumsi selama 1-3 jam. Jika dihitung sesuai dengan keefektifan pencampuran, bisa digunakan 30-40% dari jatah pakan dalam 1 hari. Pastikan obat cacing tercampur rata dalam ransum yang biasanya lebih sulit mencampurnya dibandingkan dengan pemberian obat melalui air minum.

• Putus siklus hidup cacing

Pahami siklus hidup cacing. Keberhasilan penanganan cacing tidak akan bisa tuntas tanpa memahami siklus hidup cacing. Gambar 1 dan 2 menunjukkan siklus hidup cacing pita dan cacing gilik.

Gambar 1. Siklus hidup cacing pita (Davainea proglottina) Gambar 2. Siklus hidup cacing gilig (Ascaridia galli)

Putus siklus hidup cacing, sehingga cacing tidak menginfeksi ayam yang masih sehat. Perhatian kita harus lebih ditingkatkan saat ayam dipelihara dalam kandang postal tanpa slat. Karena penyebaran cacing akan lebih cepat. Namun penggunaan kandang baterai pun bisa dengan mudah terjadi penularan cacing jika ada kontribusi peran dari serangga (lalat, red).

Gambar 1 dan 2 semakin menyadarkan kita pentingnya kita mengidentifikasi berada telur cacing pada feses. Ini menjadi langkah sangat efektif untuk mengatasi serangan cacing secara efektif. Dengan kondisi kelembaban dan suhu yang optimal (25oC) telur Ascaridia galli mampu bertahan 8 bulan di feses. Pembersihan feses pada saat ada kasus cacing sangat efektif untuk memutus siklus hidup cacing. Membasmi hewan perantara, seperti lalat, siput, serangga akan sangat efektif untuk memutus siklus hidup cacing pita.

• Evaluasi keberhasilan penanganan

Selalu lakukan evaluasi keberhasilan dari penanganan kasus serangan cacing. Lakukan pengamatan pada feses, jika diperlukan lakukan bedah bangkai dan pantau recording. Jika pengobatan cacing berhasil, produksi telur akan berangsur-angsur pulih. Kecepatan pemulihan produksi ini tergantung dari tingkat keparahan serangan cacing. Semakin cepat identifikasi cacing akan semakin cepat produksi pulih.

Lakukan pengobatan ulang jika diperlukan, terlebih pada saat jumlah cacing yang menginfeksi banyak. Lakukan ulangan pengobatan dengan interval 10-14 hari. Ini untuk membantu memutus siklus hidup cacing yang masih ada di dalam saluran pencernaan. Lakukan pembersihan feses secara rutin dan juga penanganan serangga.

Cacing adalah “pencuri nutrisi” yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dan produksi telur. Tidak mematikan, namun kerugiannya luar biasanya besar. Lakukan deteksi dini terhadap keberadaan cacing maupun telur cacing. Pantau recording secara lebih detail (berat dan besar serta produksi telur, terutama saat musim penghujan maupun saat populasi lalat dan serangga meningkat. Semoga serangan cacing bisa diantisipasi dan diatasi dengan baik. Sukses untuk kita semua.

Tanya Kami